Hak Turunan sebagai Elemen Krusial dalam Bisnis Menulis

 58 total views

Sejatinya, bisnis menulis adalah bisnis hak turunan. Kita sudah sering dengar orang bilang, “Jadi penulis mau makan apa?” Mungkin kesannya jadi penulis sukses (secara finansial) itu susah, tapi pada kenyataannya penulis sukses itu betulan ada. Jika kita perhatikan, para penulis sukses itu memiliki beberapa kesamaan: bukunya terjual ribuan dan ceritanya merambah medium non-buku.

Seorang penulis tidak bisa mengharapkan pemasukan yang lumayan dari royalti buku saja, kecuali dia mega bestseller. Untuk mendapatkan pemasukan lebih, penulis mungkin perlu menjual ceritanya dalam medium selain buku. Tapi hal itu kadang sulit dilakukan secara benar; entah karena penulis terlalu ngebet atau kurang paham bisnis lisensi. Jika ini dibiarkan, takutnya karya yang sudah penulis ciptakan tidak balik modal; atau lebih seram lagi—penulis tidak ikutan menikmati profit meskipun karyanya sukses di tangan orang lain. Di sini, aku mau sharing tentang bagaimana pengelolaan hak turunan yang baik dapat menjadi revenue stream menguntungkan bagi penulis.

hak turunan
Foto oleh Julius Drost di Unsplash

Apa itu hak turunan?

Hak turunan, atau subsidiary rights, adalah hak untuk mengadaptasi suatu karya orisinal menjadi karya turunan. Kebanyakan adaptasi ini dilakukan dalam bentuk alih media. Sesuatu yang sudah sering kita lihat adalah adaptasi buku menjadi film. Biasanya ada dua alasan produser film mengadaptasi sebuah buku: (1) si produser memang suka ceritanya; atau (2) si produser ingin menyentuh pembaca buku itu sebagai pasar.

Tapi karya turunan tidak melulu berbentuk film. Ada juga buku yang diadaptasi jadi seni panggung, komik, dan animasi. Merchandise juga termasuk! Misalnya, boneka, kaos, tas, atau printilan lainnya.

Bagaimana hak turunan bisa jadi pemasukan?

Sebagai kreator, kamu memiliki hak cipta atas karyamu (kecuali hak ciptanya kamu kasih ke orang lain). Sebagai pemegang hak cipta, kamu punya hak absolut atas karyamu. Artinya, kalau ada orang lain yang mau menggunakan karya kamu untuk tujuan apa pun, dia harus minta izin tertulis kamu dulu dalam bentuk lisensi. Kamu berhak memutuskan apakah lisensi itu akan kamu kasih gratis atau pasang harga.

Di sinilah kamu berkesempatan memutar karya kamu dalam pasar lisensi. Orang lain baru bisa membuat karya turunan dari karyamu setelah dia membeli lisensi yang relevan darimu. Produser mau bikin film? Beli lisensi film dari kamu. Ilustrator mau bikin komik? Beli lisensi komik dari kamu. Produsen mau bikin mainan? Beli lisensi mainan juga dari kamu.

Sebaiknya pasang harga berapa supaya untung?

Nah, soal ini mungkin perlu satu artikel tersendiri. Penentuan harga yang tepat, adil, dan menguntungkan butuh kombinasi ilmu dagang dan pengalaman. Sebagai rujukan awal, ada beberapa metode penentuan harga yang bisa dipakai:

  • mark up sekian persen dari ongkos produksi, alias ambil margin;
  • cek toko sebelah, alias pasang harga yang kompetitif untuk produk serupa; atau
  • pertimbangan potensi keuntungan, alias hitung harga berdasarkan antisipasi keuntungannya di masa depan (metode ini cenderung paling susah dihitung).

Pada praktiknya, penentuan harga akan menggunakan kombinasi dari ketiga metode di atas.

Catatan penting: jual beli lisensi tidak melulu harus jual beli putus, lho. Misalnya, kamu menjual lisensi adaptasi film seharga X rupiah, dibayar sekali, lunas di depan. Apakah kelar di situ saja? Belum tentu. Kamu juga bisa menegosiasikan backend. Backend ini adalah pembayaran tambahan yang kamu akan terima jika karya turunannya mencapai sukses di batas tertentu. Misalnya, jika adaptasi film mencapai satu juta penonton, maka kamu berhak dapat backend sebesar Z rupiah. Backend ini di luar dari harga lisensi X rupiah; sehingga total kamu mendapat X + Z rupiah. Dengan menegosiasikan backend, kamu berkesempatan menikmati sebagian keuntungan jika karya turunannya sukses besar.

Rambu-rambu penting

Di luar mendapatkan uang dari karya sendiri, kadang melihat karya kita diterbitkan dan dinikmati orang saja sudah bikin kita bahagia. Pesanku, jangan sampai karena terlalu ngebet bukunya jadi film atau merchandise, terus kita jadi lupa melindungi karya dan hak-hak kita sendiri. Contoh paling praktis: juallah lisensi karya turunan per medium, jangan blanket untuk semua medium. Harga lisensi perlu dinegosiasikan secara per medium; sebab beda medium, beda modal produksi dan marketing. Kamu berhak memasang harga yang pantas dan setara dengan perkiraan modal itu.

Jika kamu ragu, konsultasilah sama orang-orang yang sudah pengalaman dan pengacara. Jangan buru-buru menerima sebuah deal. Proyek lisensi biasanya berjalan tahunan, sehingga siapa pun yang membeli lisensi dari kamu berpotensi menjadi partner kamu dalam waktu yang lama. Pastikan kamu jual lisensi ke seseorang atau perusahaan yang bisa jadi partner yang baik.

Jadi, cerita kamu nggak perlu berhenti di buku. Kamu bisa memperluas potensi keuntungan dari karya kamu dengan menjual hak turunan ke partner yang tepat. Kelola jual beli hak turunan kamu dengan baik, supaya kamu bisa mengoptimalisasi keuntungan sekaligus melindungi karya dan hak-hak kamu sebagai penulis.


Penyangkalan: artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi hukum dengan pengacara profesional.

Back to Top