7 Hal yang Penulis Perlu Perhatikan dalam Kontrak Penerbitan

 22 total views

Sudah pernah baca kontrak penerbitan belum? Saat dengar kata “kontrak”, kira-kira apa yang terbayang di kepala? Dalam pengalamanku, teman-teman kreator suka curhat mengenai kontrak. Ada yang mengaku nggak ngerti kontraknya; dan setelah aku baca, ternyata kontraknya memang nggak jelas juga. Kadang ada juga penerbit yang nggak ngerti apa yang mereka mintakan ke kreator.

Kali ini, aku mau bahas poin-poin apa saja yang perlu diperhatikan dalam kontrak penerbitan. Disclaimer dulu, artikel ini tidaklah menggantikan konsultasi hukum dengan pengacara secara profesional. Artikel ini bersifat edukatif dan bertujuan menambah wawasan teman-teman penulis dan ilustrator; setidaknya supaya tahu hal-hal apa aja yang perlu dikritisi sebelum mengiyakan kerja sama dengan penerbit.

Sebelumnya aku sempat sharing soal model bisnis penerbitan dan ilustrasi pembagian royaltinya. Besaran, kalkulasi, dan mekanisme pembayaran royalti dari penerbit ke penulis akan diatur dalam kontrak penerbitan. Meskipun kontrak penerbitan bervariasi dari perusahaan ke perusahaan, tapi transaksinya secara umum berbentuk sama.

1. Identitas para pihak

Bagian ini sekilas self-explanatory, tapi sesungguhnya memiliki implikasi praktis yang perlu diperhatikan.

Suatu perusahaan hanya dapat diwakili oleh direktur, kecuali si direktur memberikan surat kuasa khusus ke karyawannya. Namun dalam kenyataannya, terutama di grup penerbitan, tidak selalu direktur yang turun tangan; bisa jadi managing editor atau manajer produksi lainnya. Cek kembali apakah dia memang sah mewakili perusahaan. Jika tidak, risikonya adalah kontrak kamu dapat dibatalkan.

Identitas penulis juga cukup jelas jika penulisnya memang hanya satu orang. Jika penulis/kreator terdiri lebih dari satu orang, kamu perlu memutuskan siapa yang akan tanda tangan kontrak. Apakah sama-sama secara tanggung renteng, atau pakai surat kuasa? Kalau ada apa-apa, siapa saja yang mesti tanggung jawab?

Untuk penulis yang diwakili oleh literary/talent agency, cek lagi hubungan kamu dengan si agensi. Umumnya, jika ada apa-apa, penulis sendiri yang mesti tanggung jawab, meskipun agen yang tanda tangan kontrak.

2. Pemberian lisensi

Di bagian ini, penulis dengan tegas menyatakan bahwa dia memberikan kepada penerbit hak untuk menerbitkan karyanya, bukan memberikan hak cipta atas naskahnya.

Pemberian lisensi ini sebaiknya dilakukan sedetil mungkin. Medium apa saja? Ada cetak, e-book, atau audiobook. Dalam bahasa apa saja? Indonesia saja, atau bisa diterjemahkan ke bahasa asing juga? Berapa eksemplar/unit yang akan diterbitkan? Penerbitan di wilayah mana saja? Ada sub-lisensi atau tidak? Eksklusif di penerbit ini atau tidak? Hak-hak ini berlaku sampai kapan?

Hak-hak yang penulis berikan pada penerbit akan mempengaruhi harga dalam transaksi ini. Semakin banyak pemberian hak, (seharusnya) harga semakin mahal.

3. Marketing: promosi dan penjualan

Dalam praktik, penulis biasanya hanya menyerahkan naskah secara utuh kepada penerbit. Selebihnya, penerbit yang akan mengurus, seperti menentukan sampul dan harga buku, hingga strategi promosi dan penjualan buku. Yang perlu dicek kembali adalah apakah penulis wajib memasarkan dan mempromosikan bukunya sendiri.

Sebagai penulis, mungkin wajar jika penulis akan promosi bukunya sendiri. Tapi secara konsep dan kesepakatan, sebetulnya ini tanggung jawab siapa? Dalam pengalamanku, ini perlu disepakati dari awal; sebab penulis belum tentu punya resources untuk mempromosikan atau mengiklankan bukunya sendiri. Sebaliknya, jika penerbit juga tidak punya strategi promosi dan marketing yang jelas, ‘kan sayang juga; lebih baik penulis cari penerbit lain.

4. Royalti dan cara pembayaran

Jika tidak didampingi lawyer, aku khawatir hanya pasal ini yang dibaca oleh penulis. Dalam suatu kontrak penerbitan buku cetak, biasanya diatur beberapa royalti.

Royalti tetap

Biasanya sebesar 5%-10% dari harga jual buku sebelum PPN. Ini persenan yang penulis dapat untuk tiap bukunya yang terjual.

Royalti di muka (advance royalty)

Ini bukan royalti bonus atau tambahan. Advance royalty adalah royalti tetap yang dibayarkan di depan, sebelum buku secara resmi terjual. Penerbit memberikan advance royalty supaya penulis bisa segera menikmati hasil jerih payahnya, meskipun buku-buku belum laku. Kemudian, buku kamu mesti terjual dalam jumlah tertentu dulu, hingga penerbit balik modal atas advance royalty yang sudah dibayarkan ke kamu. Setelah itu baru kamu akan terima royalti tetap seperti biasa. Market rate dari advance royalty saat ini adalah Rp1.500.000 – Rp3.000.000. Bisa dinego jika penulisnya bestseller.

Royalti-royalti lain

Besaran royalti ini biasanya ditentukan dari mediumnya. Market rate saat ini untuk beberapa medium adalah:

  • e-book atau audiobook, 50% dari harga jual sebelum PPN. Harga e-book cenderung lebih murah, karena produksinya juga relatif murah. Tapi bisnisnya kurang laku di Indonesia, jadi medium ini relatif belum menguntungkan; dan
  • bahasa asing, 50% dari royalti yang penerbit terima dari penerbit asing. Besarannya bisa berubah, tergantung apakah si penerbit menerjemahkan sendiri atau tidak.

Selalu pastikan persenan royalti dihitung berdasarkan apa. Kemudian, perhatikan lagi periode pelaporan dan pembayaran royalti. Dalam praktik, hal ini dilakukan dua kali dalam setahun. Selaku apa pun bukunya, uang itu tidak bisa langsung penulis terima (kecuali penulisnya terkenal banget sehingga bisa nego ke penerbit supaya royalti turun lebih sering).

Ingat juga soal pajak. Siapa yang bayar dan tanggung? Biasanya penerbit akan memotong pajak penghasilan dari royalti penulis. Minta bukti potongnya, sebab ini bisa digunakan untuk mengurangi pajak tahunan penulis. Kita perlu usaha administrasi yang lebih ekstra jika kreator ada lebih dari satu. Jika penerbit hanya membayarkan pajak untuk satu kreator, maka kreator lain dalam karya yang sama tidak akan punya bukti potong pajak. Kita bisa tanya ke penerbit apakah dia bisa membayarkan royalti secara gross atau memotong pajak untuk dua kreator.

5. Chain of title (rantai kepemilikan hak kekayaan intelektual)

Klausula chain of title ini isinya menyatakan siapa saja pemilik hak cipta atau hak kekayaan intelektual dari karya/materi yang masing-masing penulis dan penerbit buat, termasuk siapa saja yang pernah memilikinya sebelumnya. Supaya jelas, siapa memiliki apa. Misalnya, naskah adalah milik penulis; sedangkan ilustrasi sampul adalah milik penerbit.

Hal ini sebaiknya disepakati di depan demi menghindari sengketa soal hak cipta dan royalti. By default, hak cipta atas naskah tetap berada di penulis. Jika hak ciptanya beralih ke penerbit secara jual-beli putus, Undang-undang No. 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta sudah memagari supaya hak cipta itu kembali otomatis ke penulis dalam 25 tahun. Jika penerbit ingin menikmati hak itu lagi, maka dia harus negosiasi lagi dengan penulis; terutama jika bukunya masih laku.

Klausula ini seharusnya ada hampir di semua kontrak, terutama untuk transaksi yang sifatnya adalah menciptakan suatu properti intelektual, termasuk perjanjian kerja. Namun hal ini sering luput, sebab pengacara di Indonesia kebanyakan tidak dilatih untuk menggunakan perspektif hak kekayaan intelektual.

6. Hak turunan (subsidiary rights)

Hak turunan adalah hak untuk mengadaptasi suatu karya orisinal menjadi karya turunan (biasanya alih media). Misalnya, sebuah buku diadaptasi jadi film, serial, atau merchandise. Produser yang ingin melakukan alih media itu harus membeli lisensi dari si pemegang hak cipta. Jika dikelola dengan benar, bisnis hak turunan ini bisa jadi revenue stream yang menguntungkan bagi penulis.

Tidak jarang penerbit minta untuk mengelola penjualan hak turunan. Penerbit akan bertindak sebagai agen perantara antara penulis dan produser. Hasil penjualan lisensinya akan dibagi dengan penulis. Market rate saat ini adalah 50%. Mungkin sekilas, kamu berpikir, “Kenapa mesti gue bagi ke penerbit?” Umumnya, penerbit akan jawab mereka pantas mendapatkan hak demikian sebab berkat penerbitan mereka, karya kamu jadi dikenal masyarakat.

7. Pernyataan dan jaminan penulis seputar hak cipta

Dalam klausula ini, penulis menyatakan dan menjamin bahwa karya yang dia buat tidak melanggar hak kekayaan intelektual orang lain; dan jika dia menggunakan karya orang lain, dia sudah memperoleh lisensi yang sah dari pemilik hak.

Sebagai pertimbangan lebih jauh; jika penulis butuh lisensi dari karya lain (misalnya penulis mau mengutip lirik lagu), penulis bisa tanya ke penerbit, siapa yang akan menanggung biaya lisensi tersebut, apakah penulis sendiri atau penerbit? Dan siapa yang akan mengurus pembelian lisensinya? Biasanya penerbit akan membebankan itu ke penulis.

Tentunya, poin-poin di atas hanyalah sebagian dari isi kontrak. Masih ada hal-hal teknis lain yang perlu diperhatikan juga dalam kontrak. Jadi kontraknya perlu dibaca dengan teliti; tidak perlu terburu-buru. Jika ada modal berlebih, konsultasilah dengan pengacara. Jika kamu pilih mereviu kontrak sendiri, setidak-tidaknya pastikan hak cipta atas cerita, karakter, dan naskah tetap ada di kamu sebagai penulis. Kalaupun hak ciptanya kamu jual ke penerbit, pastikan kamu mendapatkan bayaran yang setimpal atas jual-beli itu.

Semoga membantu!

Back to Top