Membayar Keringat Penulis dan Komikus

 216 total views

Sebagai penulis, aku belum banyak menerbitkan tulisan secara profesional. Namun, sebagai pengacara, aku sudah banyak menangani perjanjian-perjanjian penerbitan. Jadi, kali ini aku mau berbagi pengalaman soal bisnis penerbitan, terutama cara mendapatkan keuntungan dari bisnisnya.

Dari semua bisnis di industri hiburan, penerbitan relatif paling straightforward; meskipun dengan perkembangan digital, model bisnisnya juga semakin kreatif. Topik ini mungkin akan aku bagi dalam beberapa artikel supaya mencernanya juga lebih mudah. Kita mulai dari yang paling mainstream dulu aja: novel dan komik.

Masing-masing dari novel dan komik bisa dipecah lagi menjadi bisnis tradisional dan digital. Pemecahannya sederhananya seperti ini:

Bisnis novel, e-book, dan komik tradisional

Novel cetak dan e-book

Kita sudah akrab dengan model bisnis novel cetak. Penulis mengirim naskah ke penerbit. Penerbit mencetak, mendistribusikan, dan menjual buku. Dalam skema bisnis ini, penerbit membagi sekian persen dari pendapatannya kepada penulis sebagai royalti. Umumnya di Indonesia, besaran royalti novel cetak adalah 5%-10% dari harga sampul sebelum PPN. Setelah itu royalti penulis akan dipotong lagi dengan pajak royalti 15%.

Bisnis e-book juga tidak jauh berbeda, meskipun tidak ada proses cetak buku di sini. Berkurangnya ongkos produksi membuat harga e-book bisa lebih murah, sehingga royalti penulis juga bisa lebih besar (biasanya ditawarkan 50%).

Ayo, beli bukuku, “Welcome to the Fandom”, di toko buku terdekatmu! Hehe~

Supaya lebih jelas, aku ilustrasikan sebagai berikut: misalnya, penulis dan penerbit menjual sebuah Buku A (baik novel, e-book, maupun komik) secara tradisional, dengan harga Rp100.000 dan royalti 10%. Artinya, harga sebelum PPN 10% kira-kira di Rp90.909. Biasanya oplah pertama dicetak 2.000-3.000 buku. Untuk ilustrasi ini, kita bulatkan saja di 2.000 buku. Anggaplah cetakan pertama terjual habis. Maka berapa yang penulis dapat?

Pertama, (Rp90.909 x royalti 10%) x 2.000 buku = Rp18.181.800 (pendapatan kotor penulis)

Lalu, Rp18.181.800 – pajak royalti 15% = Rp15.454.530 (pendapatan bersih penulis)

Dan angka 15 juta ini nanti akan digabung lagi dengan seluruh penghasilan penulis dalam setahun, untuk kemudian penghitungan pajak penghasilan tahunan. Bukti potong royalti di atas bisa penulis pakai untuk mengurangi tagihan pajak tahunannya.

Kebayang ‘kan, udah nulis buku selama berbulan-bulan, bahkan tahunan; jual 2.000 buku sampai habis, dan penulis cuma dapat 15 juta? Belum lagi pembayaran ini dilakukan per semester. Penulis bestseller mungkin bisa negosiasi supaya pembayaran royalti dilakukan lebih sering dari setahun dua kali.

Masih di ilustrasi yang sama, omzet penjualan Buku A adalah Rp200.000.000, dan penulis secara efektif cuma kebagian 7% dari itu. Sudah penulis cuma kebagian sedikit, bisnis penerbitan buku cetak pun masih megap-megap. Aku pikir ada yang perlu ditelaah soal ini, kenapa bisnis penerbitan tradisional saat ini sulit sustainable?

Komik cetak

Bisnis komik cetak juga serupa. Bedanya, penghasilan yang 15 juta itu mungkin harus dibagi-bagi lagi saat komikusnya ada lebih dari 1 orang, misalnya penulis dan ilustrator. Jadi bisnis komik cetak ini relatif nggak masuk akal memang kalau model bisnisnya hanya bergantung dari jualan komik cetak aja.

Bisnis novel dan komik digital

Webnovel

Platform webnovel kebanyakan berbentuk user-generated content (UGC). Saat ini platform webnovel yang paling terkenal mungkin adalah Wattpad. Penulis bisa menerbitkan novelnya secara gratis untuk user baca secara gratis pula. Lantas Wattpad dapat uang dari mana? Dari iklan yang Wattpad tampilkan di platform-nya.

Tahun ini, aku baru sadar Wattpad mulai memperkenalkan fitur baru. Penulis bisa mengunci ceritanya di balik paywall. Pembaca harus bayar sejumlah koin untuk bisa baca. Pemasukannya dibagi dua antara Wattpad dan penulis. Wattpad juga menawarkan paid membership kepada user, supaya user bisa menikmati Wattpad tanpa terganggu iklan.

Untuk bisnis lokal, sudah ada beberapa platform webnovel, salah dua yang berdiri di awal-awal adalah Storial dan NovelMe. Mereka juga menawarkan fasilitas mengunci novel penulis di balik paywall. Uang yang user bayar untuk membaca novel, dibagi dua antara penulis dan platform.

Apakah model webnovel di platform UGC ini lebih menguntungkan daripada novel cetak? Bisa iya, bisa tidak. Faktor penentunya banyak. Penerbit novel cetak cenderung sudah punya infrastruktur distribusi dan pemasaran buku yang lebih mapan. Mereka juga mengurasi novel-novel apa saja yang akan dijual. Sementara untuk penerbitan webnovel, yang kebanyakan UGC, penulis cenderung harus marketing sendiri supaya novelnya dibaca orang. Saingannya pun juga lebih banyak.

Webtoon dan webcomic

Sudah baca “Sayonara Manga” di LINE Webtoon belum? Temanku, Karasuhibari, tulis webtoon ini, dan aku yang edit! 😀

Sekarang kita ke webtoon dan webcomic. Perbedaan paling mendasar dari keduanya mungkin adalah layout. Webtoon formatnya scroll atas bawah, sehingga panel-panel komik disusun dari atas ke bawah. Sementara webcomic bentuknya seperti komik cetak (satu halaman berisi beberapa panel), sehingga kita serasa baca komik tradisional (tapi dalam kasus ini, bacanya lewat layar). Webtoon juga cenderung lebih multimedia. Sudah ada beberapa yang menyematkan audio atau video dalam webtoon-nya.

Di Indonesia, platform webtoon yang relatif paling besar adalah LINE Webtoon, yang model bisnisnya beda lagi dari penerbit cetak. Platform webtoon umumnya berbentuk hybrid antara penerbit dan platform. Untuk sisi platform, biasanya mereka punya laman khusus, tempat user bisa meng-upload komiknya sendiri secara gratis. Untuk sisi penerbit, mereka akan mengakuisisi komik, membayar si komikus secara bulanan, lalu menerbitkan komiknya secara official.

Biasanya platform webtoon akan meminta setidaknya 24 episode untuk terbit secara mingguan. Platform akan membayar komikus dalam bentuk jaminan produksi secara bulanan (market rate sebelum pandemi adalah 6,5 juta – 8 juta rupiah). Kenapa bukan royalti? Sebab platform menyajikan komiknya secara gratis. Platform sendiri mendapatkan uang dari iklan. Dengan model ini, sulit untuk menghitung royalti dari komik bersangkutan.

Di peralihan tahun 2019-2020, platform webtoon lokal mulai memperkenalkan sistem koin ‘free-if-you-wait’. Artinya, kalau user mau menunggu, user bisa baca chapter komiknya gratis di tanggal tertentu. Tapi kalau tidak sabar, user bisa bayar dan baca chapter-nya duluan. Nah, dari sini baru bisa hitung royalti. Pemasukan dari koin ini dibagi dua antara platform dan komikus.

Baca “Project Kuli” juga! Webcomic indie ini ditulis oleh Keinesasih dan diilustrasikan oleh Nin Dianda!

Apakah ini bisnis yang lucrative bagi komikus? Belum tentu juga. Misalnya, dia menciptakan komik 24 episode selama 6 bulan dengan bayaran 6,5 juta per bulan. Maka total dia mendapatkan bayaran 39 juta. Belum lagi dipotong pajak (biasanya pajak jasa 2,5%). Kemudian, jika komikusnya lebih dari satu, maka penghasilannya harus dia bagi-bagi lagi. Dalam praktik, penerbitan webtoon ini juga kebanyakan kejar tayang. Kalau sampai telat atau tidak terbit, komikus akan kena denda berupa pengurangan honor jaminan produksi bulanan.

Risiko injury-nya juga besar, sebab komikus duduk dalam posisi tertentu dalam waktu yang lama untuk menggambar. Kalau kamu suka baca webtoon lokal, mungkin sudah sering melihat pengumuman hiatus karena komikusnya sakit. Teman-temanku juga produksi komik sampai sakit-sakitan, karena umumnya mereka mengerjakan ini disambi dengan pekerjaan utama sehari-hari.

Dalam pengamatanku, produksi webtoon adalah suatu proyek yang memakan waktu dan dengan workload seperti day job, tapi pemasukannya belum tentu setimpal. Produksi webtoon official sulit diperlakukan sebagai hobi yang menguntungkan. It also needs commitment. Kalau seseorang sampai memutuskan untuk menerbitkan novel/komiknya secara indie, itu bisa lebih capek lagi. Karena semua modal dan effort jualan harus dikeluarkan sendiri.

Tiap lihat hitung-hitungan ini, aku sebagai penulis lebih sering urut dada. Di sinilah aku sadar, aku menulis karena punya cerita. Aku juga mau dapat profit dari menulis, tapi aku tahu keinginan itu membutuhkan business plan yang serius. Ada beberapa cara yang penulis/komikus bisa ambil untuk mendapatkan penghasilan yang lebih lumayan, salah satunya adalah dengan licensing. Hal ini akan aku bahas di artikel terpisah. Sementara itu, aku harap artikel ini memberikan informasi berguna bagi calon penulis/komikus dan para pembacanya. Hargailah karya seni!


Tulisan ini pertama kali aku buat pada Maret 2020 untuk diskusi entertainment law Indonesia secara tertutup. Aku salin tulisannya ke blog ini sebagai arsip, dengan beberapa perubahan untuk memutakhirkan data dan bahasa.

Back to Top