Jalan Menuju Sepuluh Ribu Kata Pertama

 24 total views

Hari ini November 2020 berakhir. Apakah kamu berhasil memenangkan NaNoWriMo? AKU … tentu saja tidak menang. Pada awal bulan, aku semangat banget mau nulis. Aku udah bikin strategi pengelolaan waktu, energi, dan word count demi mencapai 50.000 kata pada tanggal 29 November (aku sengaja menyisakan satu hari untuk jaga-jaga).

Tiga hari pertama, aku berhasil mencapai target dengan gemilang. Rasanya enak banget menang melawan diri sendiri gitu. Namun, hidup selalu penuh dengan acara dan permintaan dadakan. Tiba-tiba harus ini dan itu, sehingga jadwal harian yang sudah aku buat rapi jadi terdisrupsi. Awalnya aku ketinggalan pelan-pelan, lalu tiba-tiba aja aku udah berhenti di belakang. Rasanya mau mengejar ketertinggalan udah malas dan nggak mungkin terkejar.

Semua badge yang aku terima selama NaNoWriMo 2020.

Aku memulai NaNoWriMo dengan niat mau nulis romance, tapi berhenti di lima ribu kata karena nggak tahu mau bercerita apa. Akhirnya, aku nulis cerita baru berdasarkan sebuah ide yang sudah aku simpan lama. Kali ini nulisnya lebih semangat dan aku tahu aku mau nulis apa. Per hari ini, cerita baruku sudah mencapai tujuh ribu kata. Aku belajar banyak soal gaya menulisku sendiri selama November ini. I’m going to celebrate these small wins.

1. Menulis itu perlu strategi teknis

Aku belajar untuk memperlakukan proyek menulis sebagai sesuatu yang butuh disiplin, mirip seperti aku memperlakukan kerjaan kantor. Aku nggak bisa cuma nulis saat dapet inspirasi aja. Maka aku perlu berencana dan membuat target. Ini bagian yang paling menyenangkan untukku, karena targetnya bisa diukur.

Golku adalah menulis 50.000 kata dalam 29 hari. Maka, targetku adalah menulis 1.800 kata per hari.

2. Menulis itu juga perlu stamina

Aku perlu mencari tahu apakah aku penulis sprinter atau marathon. Bisa nggak aku nulis 1.800 kata dalam satu sesi menulis? Aku jujur aja sama diri sendiri: nggak bisa. Aku pilih sprint. Staminaku cukup untuk menulis lima ratus kata dalam tiga puluh menit. Maka, aku perlu membagi hari untuk tiga sesi menulis.

3. Ciptakan lingkungan yang kondusif untuk lancar menulis

Aku secara aktif mengondisikan lingkunganku supaya mendukungku untuk nulis. Artinya, kalau aku tahu aku capek setelah matahari terbenam, ya jangan nulis malem-malem! Sebelum November, aku udah sempat perhatiin kondisiku sendiri. Ternyata aku paling segar itu pagi hari (aku sehari-hari bangun jam tujuh). Setelah makan siang aku lemes dan ngantuk, dan biasanya aku power nap. Sore sampai makan malam, aku cukup segar lagi untuk lanjut kerja.

Berbekal ini, aku tentukan bahwa aku akan menulis sebanyak satu sesi pagi-pagi; satu sesi sore-sore; dan sesi terakhir menjelang atau setelah makan malam. Jadwal kegiatan lainnya, aku sesuaikan supaya memberikan ruang untuk tiga sesi nulis ini. Setelah dipraktikkan, strategi ini ternyata sangat manageable untukku. Aku nggak melakukan ini saat nulis “Welcome to the Fandom” dulu.

4. Outline itu mempermudah menulis

Aku belajar bahwa outline adalah segalanya. Aku bukan outliner saklek. Saat mulai nulis cerita ini, aku cuma punya outline yang sangat umum. I had a beginning, a middle, and an end; nggak detil, cuma garis-garis besarnya aja. Tapi karena aku suka sama ceritanya, itu aja yang aku pikirin sehari-hari; dan mungkin juga karena mentalku relax akibat meditasi; di tengah jalan aku kerap dapat inspirasi untuk mengisi detil-detil cerita. Pelan-pelan, aku jadi punya outline cerita yang lebih dan semakin utuh; dan ini membantu banget. Aku semakin tahu mau nulis apa.

Satu lagi yang membantuku adalah tidak menulis cerita secara berurutan. Aku nulis adegan apa pun yang lagi seru di kepalaku; meskipun di kerangka, adegan itu baru ada di babak 2B. Aku selalu bisa mengurutkan dan merapikan drafku saat revisi. Aku nggak terlalu khawatir ceritanya berantakan parah, karena aku udah punya outline.

5. Anxiety is a bitch

Terakhir, aku belajar untuk mengelola masalah anxiety-ku. Menulis adalah sebuah kegiatan yang anxiety inducing untuk aku. Lihat page kosong, tuh, aku langsung degdegan. Mulut kering, duduknya ga tenang, pokoknya pengen berhenti nulis aja (padahal nulis juga belum). Jadi aku mencoba untuk meditasi dulu sebentar sebelum mulai nulis. Ternyata cukup membantu aku relax. Tapi ini masih merupakan ongoing process. Aku masih perlu latihan lebih banyak sebelum benar-benar bisa bersahabat sama anxiety dan bisa nulis tiap hari tanpa stres berlebihan.

Akhirnya, aku pasrahkan NaNoWriMo dan lebih menyesuaikan dengan kemampuan diri. Gol word count masih sama, tapi sekarang deadline-nya adalah awal Januari 2021. Aku excited untuk menerapkan lebih lanjut semua yang udah aku pelajari tentang diri sendiri selama bulan ini. Aku penasaran apa aja yang bisa aku iterasi supaya semakin mantap. Melihat keadaanku sekarang, kayaknya sih aku masih harus mundurin deadline lagi. Tapi lihat aja nanti Januari. 😆

Back to Top